#30HariMenulis Day 25
-Tantangan kelompok, Tantangan dari Yana-
"Aaaaaaah sesuatu ya... jam segini sudah mondir mandir manja depan salon yang tutup." suara manja mendesahnya terdengar lewat telpon genggam.
"Heh, lu pikir sekarang jam berapa? Emangnya itu salon punya nenek moyang lho! Jam 2 pagi lu mau nyalon, kondangan kunti lo?" sahut pria penggenggam telpon genggam.
"Aduh Ruben please deh, princess gitu, ada job ngisi acara sahur. Gimana ya, gak tahan kalo gak nyalon dulu."
"Princess ya, gak punya tata rias sendiri lu? Rempong amat!"
"Aduh princess lupa, maklum kebanyakan show.. yuk cuss dulu ke studio,hihihi"
Ruben menutup panggilan princess.

***

"Snap snap snap helloooooooooo...... jam segini baru dateng? show setengah jam yang lalu udah mulai ini....."
"Aduh Mbak Tropica tolong ya, princess abis keliling jakarta nyari salon tengah malem gak ada yang buka."
"Ngana pikir? buka salon pribadi aja, udah?"
"Ih komennya ya... jahat"
"Itu itu, yang ketiduran disana enggak dianggap gitu? Hellooooooooooooooo..."
"Itu masalahnya, princess lupa kalo princess punya make up artist sendiri. Ya maklum lah ya, abis puasa kurang minum kurang fokus jadi gak bisa ngenalin rangga"
"Lu pikir lu Dian sastro! Sana dandan yang keren cetar badai membahana jagaat raya semesta dunia akherat!"
"Ih kamu gitu deh Fit, kaya Ruben ajah... Aaah.. cuss deh ya kita make up dulu, bye syantiik..."

***
“Ini jambulnya yang bener dooong, kurang mantap gituh. Gak kaya terowongan Cassablanca sama sekali. Atau.... kita tambahan kuntilana aja biar makin mirip? Syantik deh nanti jadinya. Ayok ayok dicoba.”
“Kuntilanak darimana Mbak Princess...? Di kotak make up gak ada sama sekali.”
“Cari doooooong. Ikutan dulu uji nyali gih, kalo nemu kamu tangkep, yaaah..”
“Serem ah Mbak..”
“Yaudah kamu ganti jambulnya pake apa gitu, jamb ul tsunami. Tapi kamu pakein itu Kapal pesiar di jambulnya biar cetar bombastis spektakuler,hihihi”
“Tapi...”
“apalagi siih? Gak bisa? Apa sih yang gak mungkin buat saya...”
“Iya mbak saya cari kapal dulu ke Merak ya mbak..”
“Eh eh jangan deh kelamaan. Dibikin biasa ajah... Ini bulu matanya kurang panjang... tabahin 5 centimeter aja pasti lebih oke. Sama warnanya dirubah ya, kamu cat lagi itu warna nya, lebih spekta! Tiap helai satu warna ya, gak boleh ada yang sama. Di highlight juga biar ngejreng. Sama ini kuku aduuuuuuuh ganti warna doooong, yang pink agak agak kebiru biruan tapi ada sedikit kuning kuning gitu, sama pake corak batik biar keliatan cinta negeri. Lipstick nya juga, yang warnanya mewah! Masa Princess biasa aja. Aduh ini rambut gak asik ya, gak ngejreng! Gak lucuk! Warnain ya, beda warna tiap lima lembar. Pake highlight juga kaya bulu mata. O M G princess lupa, sekarang itu lagi ngetren Valak. Boleh kayaknya ini make up wajah dibikin mirip Valak dikit. Matanya gitu kali ya, cucok deh pasti hasilnya. Atau kostumnya aja kostum Valak? Valak nyanyi belum ada kan ya? Eh Tapi jangna deh nati dikira lecehin suster di gereja. Lagian ini rambut juga nantinya rusak. Aduh nmana kok rambutnya belum diwarnain sih... Ini show nya udah dimulai lho... Mas? Mas? Maaaaaaaaas? Gimana sih, Mas?”

Seseorang tergeletak di bawah kursi rias. Dengan mulut penuh busa.


Tantangan : Failed


Depok, 25 Juni 2016 23:49

#30HariMenulis Day 12
- Best Age? -

Usia terbaik? Hmm.. tidak ada usia yang tak baik. Hanya bagaimana kita mengisi usia kita agar tak terbuang percuma. Jadi, menuliskan usia terbaik? Susah!

Tiap orang pasti akan bertemu dengan masa-masa bingung akan siapa dirinya.Pun dengan saya sendiri. Dan tidak semua orang mengalaminya pada usia yang sama. Bisa lebih cepat, atau lambat. Dan setiap orang selalu berbeda pengalamannya.

Saya, 20 tahun, sekitar 5 tahun yang lalu. Ya, saya mengalaminya 5 tahun yang lalu. Entah apa mungkin bisa jadi kehilangan jati diri. Bingung akan siapa diri ini. Dan... Ketakutan.

Pernah membayangkan melakukan sesuatu yang salah setiap hari dan merasakan ketakutan setiap selesai melakukannya? Saya pernah.

Entah bagaimana perasaan itu dimulai. Saya merasakan apa yang sudah dilakukan selama ini salah. Bukan saya yang sebenarnya. Di tengah kebingungan tersebut saya mencoba beberapa hal. Hal-hal yang saya sendiri belum pernah melakukannya sebelumnya.

Hari itu saya mulai mencoba untuk bolos kuliah. Ya, seharian bolos kuliah. Jalan ke mall, nongkrong di kantin, dan pulang begitu saja. Rasanya? Luar biasa! Saya menangis di dalam kamar. Menangisi kelakuan diri sendiri, dan beberapa kali mengatakan pada diri sendiri bahwa bukan seperti itu yang saya au. Bukan seperti itu identitas saya sebenarnya. Bukan seseorang yang dengan mudah menyia-nyiakan waktu begitu saja. Melanggar kewajiban sebagai mahasiswa saat itu.

Sudah selesaikah? Belum!

Saya kembali bingung apa yang harus saya lakukan... Dan... saat itu ada seorang karib yang datang berkunjung. Dia perokok. Dan melihatnya merokok membuat saya berpikir, mungkinkah saya juga perokok? YA, benar, saya mencoba untuk merokok. Istilahnya belajar merokok.
Dan apa yang terjadi? Saya tak tahan. Rokok membuat saya pusing setengah mati dan tak sadarkan diri hingga pagi. Esoknya, seharian saya tak mau keluar kamar. Kembali menangisi ulah sendiri. Dan hampir bunuh diri.

Bunuh diri? Hahahahaha pemikiran akhir yang bodoh. Tapi pengalaman paling menarik. Pernah menggengam pisau cutter baru tapi tak terluka sedikit pun? Dari situ saya yakin bukan waktu saya untuk mati. Dan tiba-tiba bayangan kematian itu menjadi sangat menyeramkan. Semua hal mengerikan muncul di benak. Siksa kubur,neraka, jawaban keliru saat ditanya malaikat, tangisan keluarga. Semua membuat pikiran saya semakin sakit.

Lalu bagaimana saya bisa menetapkan jati diri seperti sekarang? Bagaimana bisa menghilangkan ketakutan tersebut?

Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang hilang. Masih sama. Masih sama persis. hanya saja sekuat apa saya bisa tetap istiqamah. Sekuat apa saya bisa melawan untuk tidak berbuat hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tak percaya?

Apa yang saya rasakan 5 tahun yang lalu itu pernah muncul lagi. Belum lama. Saat itu saya menjadi koordinator nonton bareng Hunger Games yang terakhir. Selesai acara, saya benar-benar merasa bersalah. Kenapa? Saya meninggalkan sesuatu di tempat perantauan yang menurut saya lebih berarti. Alhasil saya keluar dari grup yang di bawahi oleh umi admin #30HariMenulis ini.

Dan kini, inilah saya dengan segala hal yang saya takuti. 5 tahun berlalu, dan masih sama. Saya takut menjadi saya yang tak ada apa-apanya bagi orang lain.

#30HariMenulis Day 10
- Kisah latar 1940-1945-

Aku sedang berjalan saat itu. Saat tiba-tiba sebuah truk berhenti tepat di depanku. Telah ada banyak wanita di dalamnya. Wanita Indonesia sepertiku. Semuanya memandangku yang hanya sendirian. Memandang dengan wajah datar.

Dua orang tentara Jepang kelar dari depan truk. Menghampiriku. Memegang kedua tanganku dan memaksaku naik ke dalam truk. Aku berontak, bahkan berteriak. Namun percuma saja. Aku tak mampu melawan.

___________

Kami dikumpulkan dalam sebuah ruangan. Entah gedung apa ini namanya. Banyak wanita yang ternyata telah mereka kumpulkan. Atau mereka culik lebih tepatnya. Semua warga pribumi. Semuanya memasang wajah takut. Saling bergerombol, berdekatan, berbagi rasa penasaran dan ketakutan.

Seorang pria jepang dengan seragam militer dan tempelan pin yang banyak naik ke atas podium di depan kami. Suaranya dibuat begitu berwibawa. Cih, kalian sudah tak ada wibawa di mata kami.

Dari apa yang dijelaskannya, kami yang dikumpulkan disini akan dijadikan perawat tentara jepang. Kami akan diberi upah dan kesejahteraan. Cukup menggiurkan. Tapi aku tak yakin dengan itu semua.

__________

Kami berada di ruang lain. Suatu ruangan luas yang kosong. Benar benar kosong. Kami hanya diperintahkan masuk ruangan ini dan menunggu tentara Jepang yang membutuhkan perawatan. Perawatan? Perawatan macam apa tanpa adanya perlengkapan? Perban? Obat luka? Apa-apaan ini?
Semua terdiam,memandang beberapa pintu yang terdapat pada tiap sisi ruangan. Dan akupun sadar. Ini adalah sebuah podium.

Tiba-tiba semua pintu terbuka. Ada sampai seratus tentara Jepang masuk memburu kami.Melucuti pakaian kami dan mulai memperkosa kami. Aku bingung. Menjerit. Dan ternoda. Satu wanita bisa dipakai 10 bahkan lebih tentara Jepang. Aku? Entah sudah berapa pria yang menikmati tubuhku.
Inikah perawatan itu...? Bangsat!

Kami ditinggalkan begitu saja, tanpa pakaan, berlemuran air menjijikan. Kotor. Dan terus berulang berkali-kali. Merawat tentara Jepang. Kami benar benar menjadi perawat. Aku menjadi perawat. Aku, Jugun Ianfu. Begitu sebutan mereka bagi kami.

Kami terkurung, tanpa makanan. Entah apakah hanya kami saja atau daerah lain pun sama? Apakah hanya tanah kami atau semua wanita di negeri ini akan mengalami hal yang sama? Aku tak kuat menahan semuanya. Kuambil helai helai kain pakaian yang rusak. Menyambungnya jadi satu hingga panjang, melilitnya di atas pintu, dan menggantung diriku. Aku lemah, aku tak kuat. Aku tak tahan. Aku (bukan) Jugun Ianfu
#30HariMenulis Day 9
-Free-

Dia terdiam. Ballpoint yang sedari tadi dipegangnya diketuk-ketuknya di meja. Matanya menatap ke depan. Kosong. Terkadang dahinya berkerut. Terlihat jelas dia sedang berpikir. Sesekali tangannya mengacak rambutnya sendiri. Atau menghembuskan napas berat.

Diliriknya jam dinding berkali kali. Menyamakannya dengan jam weker yang bertengger setia di atas meja kerjanya. Atau ditambahkan juga memastikan waktu memang menunjukan jam yang sama melalui handphone nya. Gugup, takut, khawatir.

Entah sudah berapa gelas kopi yang dia minum agar dapat tetap terlelap. Beberapa bungkus plastik keripik bertebaran di bawah meja. Playlist yang berisi 30 lagu favoritnya sudah beberpa kali diputar. Tak ada hasil apapun.

Malam Jum'at



Sendiri


Gak ngantuk sama sekali


Gak ada ide


Kekenyangan Keripik

Dia menuliskan beberapa beberapa kalimat random dalam bukunya. Berharap muncul ide dari tulisannya. Namun tetap. Tak ada ide sama sekali. Menyerah, dia pergi keluar kamar. Berharap akan muncul ide jika setelah menghirup udara bebas.


Malam Jum'at


Sendiri


Gak ngantuk sama sekali


Gak ada ide


Kekenyangan Keripik


Dia membaca kembali tulisannya sendiri.


Malam Jum'at


Sendiri

Di cek nya layar hapenya berharap ada seseorang yang mengirminya ide untuk menulis.


Malam Jum'at


Kau tak Sendiri

Matanya terbelalak. Tulisannya berubah sekejap saja.

Sementara di belakangnya, wanita berbaju putih dengan rambut yang panjang tersenyum. Kaki nya tak pernah menginjak tanah....
#30HariMenulis Day 8
-Ternyata dia belum mati... -

Ternyata dia belum mati....
Refleks aku langsung menjauh dari tubuhnya. Aku takut dia tiba tiba bangun dan menerkamku. Menyiksaku bahkan membunuhku. Aku takut. Aku gemetar. Kakiku lemas. Aku terduduk. Merangkak menuju ujung ruangan. Gemetar. Kupeluk lututku sendiri. Ku gigiti jemariku. Aku takut.

Aku telah diam di ruangan ini entah berap lama. Tak ada akses bagiku untuk melihat dunia luar. Pintu selalu terkunci. Tak ada jendela. Hanya ada ventilasi kecil di dalam ruangan. Tidak. Ada dua. Yang satu di kamar mandi. Dinding ruangan yang bercat merah seakan membuatnya menjadi sangat sempit. Tak ada kursi, meja ataupun leari. yag ada hanya tempat tidur tipis tanpa ranjang. tanpa sprei dan hanya ada 1 bantal saja. Tak ada apapun di dalam ruangan ini. Hanya itu yang aku punya. Tidak. Bukan. Bukan punyaku. Tapi yang di berikan padaku.

Aku hanyalah tawanan dirinya. Yang dia pakai sesuka hati kapan pun dia mau. Aku lupa kapan pertama aku dikurung di tempat busuk ini. Berbulan-bulan sepertinya. Entahlah aku lupa.

Umurku 15 tahun ketika aku dibawa kesini. Tepat saat ibuku meninggal. Ya, beberapa saat setelah ibu meninggal dia membawaku ke rumah ini. Dan mengurungku disini. Dia yang kini tergeletak disana. Dia... Ayah tiriku.

Aku hanyalah mainan baginya. Semenjak ibu masih hidupku dia terkadang suka mencuri pandang ke arahku, atau pura-pura tak sengaja menyentuh tubuhku. Kini, setelah ibu tiada dia merdeka. Bebas melahapku kapan saja. Aku tak dapat menolak,tak dapat membela diri. Apa daya kekuatan anak 15 tahun dibanding pria kekar berusia 40 tahun.

Pernah ketika aku sedang tidur dia masuk dalam keadaan mabuk. Langsung membuka paksa baju yang kupakai. Dan tanpa ba-bi-bu langsung melakukannya. Takut, kaget, sakit. semmua bercampur aduk. Kesal, marah, benci, semua berkumpul jadi satu. Namun apa daya aku hanya bisa terdiam.
Hingga hari ini aku memiliki kesempatan. Kuraih sepatu bootnya ketika dia sedang menikmati tubuhku. Dan ku hantamkan sekeras mungkin tepat pada pelipisnya. dia roboh. Aku sempat berdiri namun dia kembali sadar dan sekali lagi, aku hantamkan sepatu besarnya ke pelipisnya. Tak puas, aku hantam kembali sampai dia benar benar roboh. Kukira dia mati, tapi tidak. Dia masih bernapas dan pasti akan sadar kembali. Tak ada celah bagiku selain lari.

Aku memperhatikan tubuhnya. memasang kuda-kuda untuk lari.kutahu dia menyimpan kuncinya di saku celana yang kini hanya dia pakai se lutut. Aku harus mengambilnya dan pergi keluar. Harus! Maka kuambil kembali sepatunya. Sepatu ini begitu besar dan berat. Tak heran dia bisa sampai tak sadarkan diri.

Perlahan aku berjalan mendekat. Sangat pelan hingga tak menimbulkan suara sedikit pun. Jangan sampai aku membangunkannya. Kurogoh saku celananya. Sulit. Terlalu sempit.Aku tak ingin menyerah. Kupaksakan tanganku merogoh saku celananya. Tetap sulit. Terlalu sempit dan terhimpit tubuh kekarnya.

Dia hidup! dia terbangun! Dia berbalik telentang. Gawat! Dia akan bangun dan membunuhku!

Aku melompat meduduki tubhnya. Tak ambil waktu lama, aku hantamkan sepatu besarnya tepat di wajahnya.

Sekali,
Dua kali,
Tiga kali,

Terus ku hantamkan sepatu itu ke wajahnya tanpa ampun.

"Anjing!"
"Setan!"
"biadab!"
"Mati kau!"
"Mati!"
"Mati!"

Aku tak hentinya memaki seraya ku hantamkan kembali sepatu itu. Darah keluar dari semua arah. Tak hanya darah, ada cairan kuning ikut keluar dari kepalanya. Dia tak lagi meronta. Dia diam. Diam... Dia mati!

"hahahahahahaha mati kau bangsat! Hahahahahahaha"

Aku tak dapat berhenti tertawa. Dia mati. Hahaha dia mati.

Mati
Mati
Mati
Mati
Mati