#30HariMenulis-Day 11-Diatas Atap Bagian 6

Kebencian hanya akan meninggalkan rasa sakit yang tak pernah hilang...
_____________________________________________________________________


"Ini apartemen kami,aku bareng Rendy. Ya, kita tinggal bersama disini semenjak setahun yang lalu. Sempat terpisah seperti denganmu dulu. Sampai suatu hari Rendy tiba-tiba datang ke tempat kita maen futsal dulu. Tampak sangat berantakan. Tinggal loncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain. Dia tidak tinggal di rumahnya semenjak orangtuanya bercerai. Tapi untunglah, mereka tidak melepas tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan Rendy. Tiap bulan masih ada kiriman uang untuknya. Hanya saja mungkin karena dulu dia depresi, dia tak pernah menyisakan sedikit pun uangnya. semua habis dipakai foya-foya. Diskotik, sewa perempuan, minuman keras, itu hidup dia dulu. Untuknya masih ada sedikit hubungan antara otak dan hatinya, di datang menemuiku yang selalu menunggu kalian di tempat kita bermain futsal. Ya, tiap hari aku disana. Berharap kalian datang. Dan dia datang. Menangis padaku. Aku membawanya kesini. Sedikit demi sedikit membimbingnya hingga kini tak lagi dia pergi ke diskotik, tak ada lagi perempuan yang dia sewa, walau terkadang dia masih minum minuman keras, namun tak pernah sampai keterlaluan. Dan satu hal aku peringatkan padamu, jangan pernah membahas orangtuanya dan agama, dia tak akan senang akan hal itu. Dan kini dia tak memiliki agama."

Rahsya terdiam. Sorot matanya kosong namun terpampang jelas wajahnya kaget. Entah apa yang dia pikirkan.

"Duduk,Sya." Aku mempersilahkannya duduk. Dia sedikit terlonjak namun langsung duduk dan tersenyum.
"Mau minum apa?" Aku menawarkan.
"Air putih saja, terimakasih."
Aku pergi mengambil minum dan segera duduk disampingnya. Dia masih menatap berkeliling ruangan apartemenku.
"Enak, nyaman, dan.... wanginya....."
"Lavender, kesukaanmu. Kami sengaja memilih wangi ini, agar kami selalu merasa bahwa ada kamu bersama kami."
Dia tersenyum. Lebih manis dari sebelumnya.
"Aku ingin berganti pakain dulu. Jika mau ke kamar mandi, ada sebelah kanan. Shalat di kamar tamu saja, arah kiblat lihat di langit-langit. Ada apa-apa teriak saja. Oke?"
Dia mengangguk. Aku bangkit dan pergi ke kamar. Pakaian ini  sudah sedikit tidak nyaman. Aku segera mengambil handuk dan pergi mandi.
Hanya dengan handuk putih yang melilit bagian bawahku aku keluar dari kamar. Parfum yang baru saja aku beli masih di dalam tas dan aku simpan di meja saat duduk dengan Rahsya tadi. Penasaran, aku melihat ke arah ruang tamu. Tampak Rahsya telah memakai mukena, baju putih besar yang menutupi seluruh badannya. Seperti ponco, hanya da lubang untuk wajahnya. Dia sangat berkonsentrasi akan ibadahnya. Tanpa sadar aku terdiam memperhatikan setiap gerakanya. Dan hatiku berebar ketika kulihat dia bersujud pada Tuhannya. Hatiku berteriak, menggeliat, memukul-mukul jantungku. Dan tak henti-hentinya bertanya pada diriku sendiri.
"Kapan terakhir kali kau beribadah? Kapan terakhir kali kau menginjakan kaki di gereja? Kapan?"

Aku kembali ke kamarku. Duduk di atas tempat tidur dan melihat salib di dinding ruangan itu. Tanpa sadar aku menangis. Aku merindukan itu semua. Aku merindukan Tuhan. Aku merindukan aroma gereja. Aku rindu membuat tanda salib di dahi, dalam nama Bapa .. di dada, dan Putra .. di bahu kiri, dan Roh Kudus, dan di bahu kanan, Amin. Aku rindu lagu pujian yang dulu selalu aku nyanyikan. Dan lirih mulutku menyebut namaNya. "Yesus Kristus .."

Handphone ku berdering. Sebuah pesan multimedia masuk. Seseorang mengirim sebuah gambar. Terpampang jelas nama pada layar handphoneku. Radit. Dia.....
Aku membuka pesannya. Sebuah pesan dengan nada sinis kemenangan.

Sudah kukatakan
sebelumnya kan, aku
tak akan pernah
membiarkanmu bahagia.
Kan kurebut semuanya.

Tepat dibawah pesan itu, sebuah foto yang mampu membakar jiwaku. Radit dan Rendy sedang tidur bersama, tanpa busana.

"Anjing!" aku berteriak.
PRANK! Refleks aku melempar handphone yang sedang kupegang.
Rahsya berlari ke kamarku, masih dengan mukena yang dia pakai.

"Zeri? Ada apa?"


*Bersambung

Leave a Reply